HIMAMIA "REDOKS" FMIPA UNLAM

TUGAS ARTIKEL ILMIAH PRAKTIKUM KIMIA INSTRUMEN

Analisis Fe, Cd dan Cu dalam Sampel Air Irigasi Martapura Dan Air Sumur Cempaka Banjarbaru Dengan Metode Spektrofotometri Serapan Atom

Kelompok 4 Praktikum Kimia Instrumen

(Dyah Ayu Kusumawati, Zulfikurrahman, Amelia Sari Nastiti, Firman Hadinata, Grenadila Eka Sagita, Jumiati Dewi, Adi Rohandi)*

* Mahasiswa Program Studi S-1 Kimia FMIPA UNLAM Banjarbaru

 

ABSTRAK : Telah dilakukan analisis kuantitatif dalam sampel air irigasi Martapura dan air sumur cempaka Banjarbaru dengan metode spektrofotometri serapan atom. Spektrofotometri serapan atom merupakan salah satu metode analisis yang dapat digunakan untuk menentukan unsur-unsur di dalam suatu bahan dengan kepekaan, ketelitian serta selektivitas tinggi. Hasil analisis menunjukkan kadar logam dalam air irigasi Martapura dan air sumur cempaka Banjarbaru masing-masing adalah -0,888 ppm, dan -1,428 ppm untuk Fe ; 0,002234 ppm, dan -0,002234 ppm untuk Cu ; -0,00287 ppm, dan -0,018  ppm untuk Cd. Kadar logam Fe dan Cd yang diperoleh ini bernilai negatif yang artinya kadar Fe dan Cd dalam sampel sangat kecil. Nilai negatif juga diperoleh karena adanya gangguan pada saat analisis.

Kata kunci: logam Fe, Cd, Cu, spektrofotometri serapan atom.

PENDAHULUAN

Kalimantan selatan merupakan provinsi yang memiliki banyak sungai. Selain menjadi sarana transportasi, sungai-sungai tersebut juga menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat di sekitarnya. Namun, banyak terjadi pencemaran baik pada sungai, irigasi, sumur di daerah kalimantan selatan. Pencemaran oleh logam berat sangat merugikan kehidupan manusia, misalnya kasus Minamata di Jepang dan pada tahun 2004 kasus pencemaran Teluk Buyat, dan hal ini akan terus berlanjut jika pihak-pihak yang berkepentingan tidak mempedulikan terhadap kelanjutan kehidupan dimasa yang akan datang [2].

Tingginya kandungan logam berat tiap tahunnya diduga karena pembuangan limbah dari industri-industri yang terletak di sekitar sungai, irigasi, rawa, maupun sumur. Kadar logam yang tinggi pada perairan tentu akan mempengaruhi kualitas air. Manusia mengkonsumsi ikan dan sejenisnya untuk memenuhi kebutuhan akan gizi yang diperlukan tubuh. Untuk melindungi masyarakat dari lingkungan dan makanan yang kemungkinan telah tercemar dengan polutan, perlu dilakukan pengawasan terhadap lingkungan darat, udara, maupun laut Biota akuatik merupakan bioindikator yang digunakan untuk mengetahui besarnya pencemaran yang terjadi pada suatu lingkungan habitat. Dalam hal ini kami ditugaskan untuk meninjau wilayah irigasi di martapura dan wilayah sumur didaerah cempaka kota banjarbaru, kalimantan selatan. Untuk tujuan analisis kami mengambil sampel air dari kedua tempat tersebut, agar dapat diketahui seberapa besar kandungan logam Fe, Cd, dan Cu pada air didaerah tersebut [1].

Penentuan secara kuantitatif kandungan Fe, Cd, dan Cu dalam sampel menggunakan metode Spektrofotometri Serapan Atom. Metode Spektroskopi Serapan Atom (SSA) atau Atomic Absorption Spectroscopy (AAS) merupakan salah satu jenis spektrofotometri dimana spesi pengabsorpsinya adalah atom. Metode AAS didasarkan pada penyerapan energi sinar oleh atom netral dalam keadaan gas. AAS memiliki rentang garis serapan yang sangat sempit, yaitu sekitar 0,002 Å. Hal ini disebabkan pita atomik tidak dipengaruhi oleh struktur rotasi dan vibrasi seperti pada pita absorpsi molekul. Metode AAS dapat digunakan untuk menganalisis unsur-unsur logam pada konsentrasi dari kuantitas trans (renik) sampai kuantitas makro. Metode ini mampu menganalisis kadar logam dalam berbagai pelarut. Dalam analisis secara AAS, unsur yang dianalisis harus dikembalikan ke keadaan dasar sebagai atom netral. Proses ini berlangsung dengan jalan larutan sampel yang dianalisis disedot lewat pipa kapiler dan selanjutnya disemprotkan sebagai kabut ke dalam nyala api, pada temperatur  terjadi penguraian senyawa organik [1].

Proses kerja alat AAS (Atomic Absorption spectroscopy) adalah sebagai berikut. Larutan sampel yang dianalisis disedot lewat pipa kapiler dan selanjutnya disemprotkan kedalam nyala lewat alat pengkabut (nebulizer). Dalam nyala terjadi proses pengatoman sampel. Atom yang terbentuk semula berada dalam keadaan dasar (ground state), namun kemudian dengan menyerap cahaya dari lampu katoda, atom tersebut mengalami eksitasi ke tingkat energi yang lebih tinggi. Atom yang semula berada dalam keadaan tereksitasi kembali ke tingkat energi dasar dengan melepaskan energi/cahaya. Selanjutnya energi/cahaya tersebut ditangkap oleh monokromator, kemudian dibaca oleh detektor dan diolah menjadi data output dalam bentuk skala meter atau data digital. Keseluruhan dari proses ini seperti terlihat pada Gambar 1 [1].

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1 . Diagram blok instrumen AAS

Suatu atom dikatakan dalam tingkat energi dasar apabila atom ini terdapat pada tingkat energi yang paling paling rendah. Atom dalam keadaan ini dapat pindah ke tingkat energi yang lebih tinggi bila atom tersebut menyerap energi/sinar. Bila atom pindah/kembali ke tingkat energi yang lebih rendah maka akan memancarkan energi dalam bentuk cahaya. Kemampuan suatu atom untuk mengadsorpsi cahaya tergantung dari jenis atom itu sendiri dan energi cahaya yang digunakan. Setiap atom memiliki kemampuan menyerap cahaya sesuai dengan tingkat energi yang dimiliki oleh atom itu sendiri. Sehingga di dalam metode AAS digunakan lampu katode khusus yang dibuat atau dilapisi dengan logam yang sama dengan unsur logam dalam sampel yang dianalisis. Penggunaan lampu katode khusus tersebut bertujuan untuk menghasilkan pancaran cahaya/sinar dengan rentang penjang gelombang atau energi yang sempit, tepat sama dengan energi atom-atom penyususn logam yang dianalisis.Dengan menggunakan lampu katode khusus yang mempunyai panjang gelombang tetentu (sesuai dengan unsur yang dianalisis), AAS spesifik untuk setiap unsur. Besar intensitas cahaya yang diserap tergantung dari kadar atomnya. Dalam hal ini berlaku hukum Lambert Beer yang dapat ditulis dengan rumus [1]:

      = – a. b. C

It/I0 disebut konsentrasi trasmitan(T) maka :

log T         = -. b.C atau,

                                                –log T        =.b.C

Dengan ketentuan:

I0   :  intensitas cahaya dating

a    :  kofisien aktivitas

:  koefisien aktivasi molar

C   :  konsentrasi

A   :  absorbansi

b    :  tebal kuvet

Cara untuk menentukan konsentrasi larutan sampel adalah dengan membandingkan absorbansi (A) larutan sampel dengan absorbansi  larutan standar yang diketahui konsentrasinya. Selanjutnya dibuat kurva kalibrasi yaitu grafik hubungan antara absorbansi (A) terhadap konsentrasi larutan standar yang berupa garis lurus. Larutan sampel diukur absorbansinya, kemudian diplot pada kurva kalibrasi tersebut. Dengan demikian konsentrasi sampel dapat ditentukan [1].

A

 

 

 

C

Gambar 2. Kurva Hukum Lambert Beer (kurva kalibrasi)

Metode Spektrofotometri Serapan Atom memiliki beberapa keuntungan yaitu kecepatan analisis nya, ketelitiannya, umumnya tidak memerlukan pemisahan pendahuluan logam-logam yang diperiksa dan dapat menentukan konsentrasi unsur dalam jumlah yang sangat rendah [3].

 

METODOLOGI

Alat-Alat

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah Spektrofotometer Serapan atom, labu ukur 50 mL, pipet volum 25 mL, propipet, pipiet tetes, gelas beker.

Bahan-Bahan

1. Sampel air

Sampel air yang digunakan berasal dari air irigasi Martapura dan air sumur cempaka Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

 

 

 

2. Pereaksi

Pereaksi yang digunakan adalah kualitas pro analisa keluaran E. Merck: Dinatrium sulfida, ammonium hidroksida, asam nitrat, larutan standar Fe, Cd, dan Cu.

Prosedur Penelitian

  1. Pengenceran larutan induk Fe 1000 ppm
  • Larutan standar Fe (1000 ppm) dipipet 10 ml, masukkan ke labu tentukur 100 ml, tambahkan dengan air suling hingga garis tanda (konsentrasi 100 ppm).
  • Larutan stanar Fe 100 ppm di buat menjai konsentrasi 1; 2; 3; 4; 5 ppm.
  1. Pengenceran larutan induk Fe 1000 ppm
  • Larutan standar Cd (100 ppm) dipipet 10 ml, masukkan ke labu tentukur 100 ml, tambahkan dengan air suling hingga garis tanda (konsentrasi 10 ppm).
  • Larutan stanar Cd 100 ppm di buat menjai konsentrasi 0,2; 0,4; 0,6; 0,8; 1,0 ppm.
  1. Pengenceran larutan induk Cu 1000 ppm
  • Larutan standar Cu (1000 ppm) dipipet 10 ml, masukkan ke labu tentukur 100 ml, tambahkan dengan air suling hingga garis tanda (konsentrasi 100 ppm).
  • Larutan standar Cu 100 ppm dibuat menjadi konsentrasi 0,2; 0,4; 0,6; 0,8; 1,0 ppm.

4. Analisis logam dalam sampel dengan AAS

  • Larutan sampel yang telah diencerkan diukur absorbansi nya dengan Spektrofotometer Serapan Atom pada panjang gelombang maksimumnya.
  • Kadar timbal, kadmium, tembaga dan seng pada ketam batu dan lokan dapat dihitung berdasarkan Persamaan Regresi y = bx + a , dimana y = A sehingga diperoleh nilai x sebagai konsentrasi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

  1. Penentuan Linieritas Kurva Kalibrasi Kurva kalibrasi besi, kadmium, dan tembaga  masing-masing dengan berbagai konsentrasi dapat dibuat untuk memperoleh nilai R2 dan persamaan garis y = bx + a yang nantinya akan digunakan untuk perhitungan konsentrasi logam dalam sampel air. Berdasarkan pengukuran kurva kalibrasi untuk Fe, Cd, dan Cu, diperoleh hubungan yang linier dengan persamaan garis regresi yaitu y = 0.0612x + 0.0042 dan koefisien korelasi (R2) sebesar 0.9936 untuk Fe.  y = 0.179x – 0,0124 dan koefisien korelasi sebesar R2 = 0.9994 untuk Cu.  y = 0.3135x + 0.0039 dan koefisien korelasi R2 = 0.9605 untuk Cd.

2. Penentuan Kadar Fe, Cd, dan Cu pada  Sampel

Kadar logam Pb, Cd, Cu, dan Zn yang diperoleh berdasarkan persamaan regresi linear dari kurva kalibrasi Fe, Cu dan Cd yang telah diperoleh. Nilai y dalam persamaan tersebut merupakan nila adsorbans dari sampel air, sehingga diperoleh nilai x sebagai konsentrasi dari logam yang terdapat dalam sampel. Absorbansi sampel air irigasi dan sumur cempaka berturut-turut adalah sebgai berikut : untuk Fe -0,059 dan -0,092, untuk Cu -0,012 dan 0,008. Sedangkan untuk Cd -0,002 dan 0,007. Konsentrasi logam Fe, Cu dan Cd dalam tiap sampel air dapat dilihat pada Tabel dibawah ini:

 

 

Sampel air

Kadar (ppm)

Fe

Cu

Cd

Irigasi martapura

-0,888

0,002234

-0,00287

Sumur cempaka

-1,428

0,002234

-0,018

 

Data diatas menunjukkan bahwa pada sampel air irigasi Martapura dan sumur Cempaka mengandung sedikit logam Cd yaitu sebesar 0,002234 ppm. Sementara kandungan logam Fe dan Cu sangat rendah sekali sehingga nilai A dan konsentrasinya  negatif. Hasil ini menunnjukkan air irigasi Martapura dan sumur cempaka belum tercemar oleh logam Fe, Cu dan Cd.

 

KESIMPULAN

Dari hasil analisis kualitatif kandungan logam Fe, Cd, dan Cu dalam sampel air irigasi Martapura dan sumur cempaka banjarbaru menunjukkan bahwa kandungan logam Fe dan Cu nya sangat rendah ( ditandai dengan nilai A yang negatif). Sedangkan kandungan logam Cd dari kedua sampel cukup kelihatan keberadaannya yaitu sebanyak 0,002234 ppm. Hasil juga menunjukkan bahwa air irigasi martapura dan sumur cempaka relatif belum tercemar oleh logam Fe, Cu dan Cd.

 

REFERENSI

  1. Salbiah, Putra D.L Effend, Aman .Ci. 2009. Analisis Logam Pb, Cd, Cu, dan Zn dalam Ketam Batu, dan Lokan Segar yang Berasal dari Perairan Belawan Secara Spektrofotometri Serapan Atom. Staf Pengajar Fakultas Farmasi USU

 

  1. Khopkar, S.M. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Universitas Indonesia Press.Jakarta.

 

  1. Muchlisyam, 1998. Analisis PencemaranLogam Cu, Cd, Pb, dan Hg di dalam Ikan Asin Kepala Batu (Pseudoceina amoyensis) Produksi Nelayan di daerah Pesisir Belawan Propinsi Sumatera Utara.Media Farmasi.ARTIKEL PRAKTIKUM KIMIA INSTRUMEN

November 17, 2011 Posted by | Potret HIMAMIA "Redoks" FMIPA UNLAM | Tinggalkan komentar

TUGAS ARTIKEL PRAKTIKUM KIMIA INSTRUMEN

KELOMPOK 3

ü  Abdul Rahman`    (J1B109062)

ü  Haryati Kamilsa    (J1B109053)

ü  M. Agus Hilal K.  (J1B109001)

ü  Rahmiana              (J1B109054)

ü  Risnu Aritofa        (J1B109209)

ü  Yulia Agustina      (J1B109008)

ü  Zurmiatul Helda    (J1B109040)

 

ANALISIS Fe, Cd DAN Cu

PADA  SAMPEL SUNGAI BARITO DAN RAWA GAMBUT

DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM

Spektroskopi Serapan Atom atau Atomic Absorption Spectroscopy (AAS) adalah instrument yang digunakan untuk menganalisis logam dalam wujud larutan atau suatu sampel yang diduga mengandung suatu logam tertentu. Bagian-bagian dari AAS antara lain sumber sinar, sumber nyala (berupa burner yang berisi bahan bakar tertentu), monokromator (berfungsi untuk mendapatkan berkas sinar tunggal), amplifier (penguat) dan recorder (pencatat).

Sumber sinar yang digunakan dalam instrumen AAS berupa lampu katoda berongga (hollow cathode). Lampu ini sangat spesifik untuk setiap unsur yang akan dianalisis. Spesifikasi dari lampu katoda yang digunakan adalah pada panjang gelombang resonansi yang dimilikinya. Panjang gelombang resonansi merupakan panjang gelombang dimana diperoleh garis spektrum yang tajam dan denagn intensitas yang maksimum.

Penggunaan instrumen AAS memerlukan banyak tahapan untuk dilalui sebelum pengukuran serapan sampel dilakukan. Pertama adalah pengaturan posisi lampu katoda, karena posisi lampu yang tidak tepat akan memberikan hasil yang tidak optimal. Selain itu, juga dilakukan pengaturan nyala api dengan bahan bakar udara-asetilen sehingga tinggi nyala, besarnya nyala, kemudian posisi api sesuai. Kemudian, perlu dilakukan beberapa pengaturan, misalnya data zat yang dianalisis (dengan mengetik unsur yang dianalisis), panjang gelombang resonansinya, nilai maksimum dan minimum kurva, dan waktu optimasi. Optimasi digunakan untuk pengkondisian alat sebelum dilakukan pengukuran sampel.

Metode AAS berprinsip pada absorpsi cahaya oleh atom. Atom-atom menyerap cahaya tersebut pada panjang gelombang tertentu, tergantung pada sifat unsurnya. Yang perlu diperhatikan dalam pengukuran kadar zat dengan AAS adalah biasanya sampel yang dianalisis memiliki konsentrasi yang rendah. Apabila akan dilakukan pengukuran, sampel dengan konsentrasi tinggi diencerkan terlebih dahulu. Jika pengukuran serapan tetap dilakukan, hasil tidak akan terbaca oleh alat (akan tertulis OVER).

Pada percobaan ini, larutan induk Fe, Cd dan Cu dengan konsentrasi masing-masing 1000, 10000 dan 1000 ppm. Dari larutan induk ini dapat dibuat larutan standar dengan variasi konsentrasi, dimana konsentrasi untuk Fe adalah 1, 2 3, 4 dan 5 ppm, sedangkan konsentrasi untuk Cd dan Cu adalah 0,2; 0,4; 0,6; 0,8 dan 1 ppm. Dari pengukuran absorbansi larutan standar Fe diperoleh hasil berturut-turut 0,054; 0,114; 0,185; 0,250 dan 0,292. Sedangkan dari pengukuran absorbansi larutan standar Cd diperoleh hasil 0,086; 0,123; 0,169; 0,242 dan 0,304. Dan dari pengukuran absorbansi larutan standar Cu dihasilkan nilai absorbansi berturut-turut 0,023; 0,059; 0,097; 0,129 dan 0,167. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa absorbansi larutan akan semakin meningkat dengan semakin meningkatnya konsentrasi larutan. Hal ini sesuai dengan hukum Lambert Beer yaitu: A = a.b.c, dimana A merupakan absorbansi dan c merupakan konsentrasi.

Dari hasil pengukuran di atas dapat dibuat tiga grafik yang menyatakan hubungan antara absorbansi dan nilai konsentrasi dari masing-masing larutan standar. Dari grafik tersebut dihasilkan persamaan garis linear yang nantinya digunakan untuk penetapan kadar sampel yang akan dianalisis. Persamaan garis linear yang diperoleh adalah: untuk larutan standar Fe, y = 0,0612x – 0,0046 ; untuk larutan standar Cd, y = 0,179x – 0,0124 ; dan untuk larutan standar Cu, y = 0,3135x + 0,0039.

Dengan menggunakan persamaan garis linier di atas, maka konsentrasi sampel yang diduga mengandung logam tertentu dapat diplotkan. Dalam persamaan garis tersebut, nilai x merupakan besarnya konsentrasi larutan logam sedangkan nilai y adalah besarnya absorbansi larutan logam tersebut yang diukur pada panjang gelombang maksimumnya. Pada percobaan kali ini, sampel yang akan dianalisis adalah sampel sungai Barito dan rawa Gambut.

Kedua sampel di atas dianalisis dengan AAS sehingga didapat nilai absorbansi masing-masimg sampel. Setiap sampel memiliki 3 nilai absorbansi yaitu nilai absorbansi sampel untuk logam Fe, Cd dan Cu. Dari nilai-nilai absorbansi itu diperoleh hasil perhitungan yang menunjukkan seberapa besar kadar logam dalam sampel. Pada sampel sungai Barito, kadar Fe sebesar 4,225 ppm; Cd sebesar 0,041 ppm; dan Cu sebesar 0,320 ppm. Pada sampel rawa Gambut, kadar Fe sebesar 11,413 ppm; Cd sebesar -6,060.10-3 ppm; dan Cu sebesar 0,108 ppm.

Dari hasil di atas, dapat dilihat bahwa kadar Fe tertinggi terdapat pada sampel rawa Gambut, kadar Cd tertinggi pada sampel sungai Barito dan kadar Cu tertinggi terdapat pada sampel Sungai Barito. Dari hasil perhitungan kadar dalam sampel yang dihasilkan ada yang bernilai negatif. Hal ini mungkin disebabkan oleh pengenceran yang kurang tepat dan kemungkinan besar tidak terdapat kandungan Fe, Cd dan Cu (kandungannya relatif sangat kecil).

November 17, 2011 Posted by | Potret HIMAMIA "Redoks" FMIPA UNLAM | Tinggalkan komentar

BABAK PENYISIHAN TAHAP I SBCC 2011, 17 SEPTEMBER 2011

Assalamualaikum wr. wb.

SALAM “Redoks” MANIA … !!!

Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan hidayah-Nya jualah akhirnya serangkaian acara babak penyisihan tahap I SBCC 2011 yang berlangsung serentak di empat kota berbeda, yaitu Banjarmasin (SMAN 7 Banjarmasin), Banjarbaru (Kampus FMIPA UNLAM Banjarbaru), Barabai (SMAN 1 Barabai), dan Kotabaru (SMAN 1 Kotabaru) kemarin, Sabtu, 17 September 2011 berjalan dengan lancar.

Terima kasih kepada teman-teman panitia yang sudah bekerja keras dan juga kepada semua pihak yang telah membantu demi terlaksananya acara SBCC 2011 ini.

Tetap semangat teman-teman… karena rangkaian acara SBCC 2011 akan berlanjut di tahap II pada tanggal 24-26 September 2011. Semoga acara besar ini sukses sesuai dengan harapan kita semua,, Amin.

Wassalam.

 

Berikut hasil babak penyisihan tahap I SBCC 2011 dari tiap regional :

  •  regional I (Rantau, HSU, HST, HSS)

juara 1 –> MAN 1 Barabai

juara 2 –> SMAN 1 Barabai

juara 3 –> SMAN 1 Barabai

  • regional II (Batola, Banjarmasin)

juara 1 –> SMAN 2 Banjarmasin

juara 2 –> SMAN Kanaan Banjarmasin

juara 3 –> MAN 2 Banjarmasin

  • regional III (Banjarbaru, Martapura, Tanah Laut)

juara 1 –> SMAN 1 Banjarbaru

juara 2 –> SMAN 1 Banjarbaru

juara 3 –> SMAN 3 Banjarbaru

  • regional IV (Kotabaru, Batulicin)

juara 1 –> SMAN 2 Kotabaru

juara 2 –> SMAN 1 Kotabaru

juara 3 –> SMAN 2 Kotabaru

September 18, 2011 Posted by | Potret HIMAMIA "Redoks" FMIPA UNLAM | Tinggalkan komentar

Makrab HIMAMIA “Redoks”, Sedikit Kenang-Kenangan…

Makrab??

ga usah pusing-pusing,, ga di jelasin juga dah pada tau apa tuh yg dimaksudkan dengan makrab??

bukan ajang perloncoan, melainkan ajang mengakrabkan antara mahasiswa baru dengan mahasiswa lama maupun alumni…

yah begitulah,, gak diperpanjang-panjang lagi,, berikut ini merupakan sedikit hasil dokumentasi kegiatan Makrab HIMAMIA “Redoks” 2011 yang telah terlaksana dengan lancar… (Alhamdulillah)….

Banjarbaru, 22-24 April 2011

Kampus FMIPA UNLAM & LAMDIKADA

Apabila ada komplain, silahkan kritik kesini : arie.sanji@yahoo.co.id

#APD#

Agustus 16, 2011 Posted by | Divisi Kaderisasi | Tinggalkan komentar

LOMBA CHEMISTRY IN FRAME HIMAMIA “REDOKS” SOUTH BORNEO CHEMISTRY SOMPETITION (SBCC 2011)

PERSYARATAN DAN KETENTUAN

LOMBA CHEMISTRY IN FRAME HIMAMIA “REDOKS”

UNTUK SMA, SMK, MA DAN SEDERAJAT SEKALIMANTAN SELATAN

SOUTH BORNEO CHEMISTRY SOMPETITION (SBCC 2011)

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

Tema:

Go Green

Deskripsi :

Dalam rangkaian acara SBCC 2011 HIMAMIA “Redoks” FMIPA UNLAM Banjarbaru mengadakan lomba desain poster/banner yang berkesesuaian dengan tema.

Persyaratan Mengikuti Lomba :

  1. Poster  dibuat sesuai tema dan merupakan karya asli yang dapat dipertanggungjawabkan.
  2. Poster yang dibuat semenarik mungkin.
  3. Peserta adalah tim yang terdiri dari 2 orang pelajar SMA dan sederajat seKalimantan Selatan.
  4. Poster dibuat dengan ukuran kertas A2 (42×60 cm).
  5. Belum pernah dipublikasikan dan dilombakan.
  6. Poster wajib mengandung logo Himpunan Mahasiswa Kimia “Redoks” yang dapat dilihat pada http://himamiaredoks.wordpress.com/ dan tercantum nama serta asal sekolah pembuat.
  7. Poster dikirim dalam bentuk file lewat email ke aulia.azizah737@gmail.com  dan/atau softcopy dalam bentuk CD/DVD ke sekretariat HIMAMIA REDOKS Gedung 3 FMIPA Unlam Banjarbaru paling lambat 10 September 2011. Dengan ketentuan :

Kepada Yth. Panitia SOUTH BORNEO CHEMISTRY COMPETITION 2011

Himpunan Mahasiswa Kimia “Redoks”

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru

Jalan Ahmad Yani Km. 35,800 Gedung 3  Fakultas MIPA Banjarbaru

  • Peserta wajib mengisi formulir pendaftaran serta mengirimkan uang pendaftaran sebesar:

Rp. 30.000/tim untuk kategori pelajar SMA/sederajat

  • Pembayaran bisa langsung ke sekretariat SBCC 2011 atau ditransfer lewat Bank Syariah Muamalat dengan no. Rekening 9203843299 atas nama Arsymelati dan bukti penyetoran bisa di fax ke no. [(0511) 4773868] dan dibawa pada saat pengumuman pemenang.

Pengumuman pemenang akan diumumkan pada saat acara penutupan dan pemenang akan dihubungi oleh pihak panitia.

Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat.

Hadiah:

Trophy + Piagam + uang + merchendise

Sekretariat Panitia SBCC 2011:

HIMAMIA “Redoks”

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru

 Jalan Ahmad Yani Km. 35,800 Gedung 3  Fakultas MIPA Banjarbaru

Kesekretariatan PS. Kimia FMIPA UNLAM [(0511) 4773868]

Aulia Azizah (081953662636)

Zurmiatul Helda (085251950886)

Rizky Kurniawan (087814035290)

Fitrianti (085251675585)

Juni 28, 2011 Posted by | Potret HIMAMIA "Redoks" FMIPA UNLAM | Tinggalkan komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.